Faktor Non Ekonomi: Positivism vs Realism

January 4, 2008

Ada perdebatan yang cukup seru disini tentang dimana ekonom menempatkan “Faktor non Ekonomi” dalam analisisnya. Perdebatan diawali posting Muhamad Chatib Basri (MCB). Perdebatan ini sebetulnya bisa dikerucutkan sebagai perdebatan antara dua filososi ilmu (philosophy of science), antara positivism dan realism. Ilmu ekonomi yang menganut metode berpikir positivism dan ilmu sosial lain seperti: psikologi, antropologi, sosiologi, bahkan ilmu managemen menganut metode berpikir realism. Metode berpikir positivism memperoleh pengetahuan melalui logika penalaran. Metode berpikir ini sebenarnya dianut para ilmuwan fisika atau ilmu eksakta lainnya. Sebagai contoh sederhana: jika diketahui “A” maka “B” dan diketahui “B” maka “C”, maka dengan logika bisa diperoleh pengetahuan baru: jika “A” maka “C”. Metode berpikir positivism digunakan ilmu ekonomi dan berkembang pesat sejak era Marginalism dan dirumuskan dengan komprehensif oleh Samuelson.

Sementara itu, ilmu sosial lain menganut metode berpikir realism, dimana pengetahuan diperoleh melalui pengalaman-pengalaman dan bukti-bukti empiris. Sebagai contoh: kesimpulan atau pengetahuan baru “A” maka “C” seperti penalaran positivism diatas tidak selalu/harus terjadi. Jelasnya, jika A adalah jeruk, B adalah apel dan C adalah pisang, maka penalaran jika saya lebih suka jeruk daripada apel dan jika saya lebih suka apel daripada pisang, bagi seorang realism tidak selalu/harus menghasilkan kesimpulan saya akan lebih suka jeruk daripada pisang. Bagi seorang realism kesimpulannya tergantung fakta dilapangan, dan sangat mungkin bervariasi antar individu. Seperti kita ketahui, kesimpulan dengan penalaran positivism yaitu jeruk lebih disukai daripada pisang harus dipenuhi. Ini adalah asumsi dasar consistency dalam menurunkan utility function di teori ekonomi mikro.

Mana yang lebih unggul dari metode berpikir ini? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sebab ekonom yang berpikir secara positivism pada akhirnya mengkonfirmasi secara empiris hasil logika penalarannya. Dua metode berpikir ini sebetulnya saling melengkapi, apalagi kedudukan ilmu sekonomi sebagai ilmu sosial. Contoh penting dialektika kedua metode berpikir ini terlihat didalam ilmu ekonomi Industrial Organization. Pendekatan realism yang berangkat dari bukti-bukti empiris adalah pendekatan structure-conduct-performance yang dikembangkan oleh Harvard School. Pendekatan positivism berangkat dari asumsi-asumsi dan axioma-axioma tertentu untuk membangun suatu model, kemudian dicari solusinya dengan menggunakan logika matematika, dikembangkan oleh Chicago School (Lihat Tirole, Chapter 1, Theory of Industrial Organization untuk lengkapnya).

Sejauh ini, kedua metode ini terus berkembang, berdialektika dan saling melengkapi. Apalagi untuk tatanan kebijakan, sangat berbahaya ilmu ekonomi sebagai ilmu sosial hanya mengandalkan metode berpikir positivism. Karena yang menjadi obyek studi adalah manusia, tepatnya prilaku manusia (human behavior) yang terikat ruang dan waktu, yang bisa bervariasi antar tempat dan hari. Moral story, ilmu ekonomi perlu sekali mengadopsi ilmu-ilmu sosial lain baik dalam tingkatan yang rendah yaitu menempatkannya sebagai control variable, atao moderator/interaction variable. Atau, sampai yang paling tinggi dilakukan sampai saat ini yaitu mengintegrasikan teori-teori ilmu sosial lain kedalam teori-teori dasar ilmu ekonomi, seperti yang dilakukan Kahanemann dkk. Contohnya: literature crowding out effect menyebutkan jika insentif ditambah justru kinerja seseorang akan turun. Keduanya adalah hasil pengintegrasian teori-teori psokologi.

Demikian pengantar saya, berikut adalah salah satu tanggapan saya terhadap perdebatan tersebut.

Menarik sekali posting tanggapan dari Sonny di topik yang ditulis MCB. Sonny lebih berani menjelaskan dimana posisi “faktor non ekonomi”: teori-teori ilmu sosial: sosiologi, antropologi atau psikologi berintegrasi ke dalam teori-teori dasar ilmu ekonomi. Begitu pula AAP menintegrasikan teori prilaku dalam psikologi kedalam teori ilmu ekonomi didalam disertasinya. AP terlihat memposisikan variabel non-ekonomi sebagai control/contraint/endogeneous variables dalam model ekonomi. Sementara MCB dan ARS mengelompokan faktor ekonomi dan “faktor non ekonomi” dalam kotak terpisah dalam analisisnya, dan berpesan: jangan terburu-buru menyebut faktor non-ekonomi sebagai pejelasan dari suatu masalah. Mudah-mudahan saya tidak salah menarik benang merah perdebatan ini. Mohon dikoreksi jika salah.

Saya sendiri sebetulnya dalam posisi menempatkan variable “non-ekonomi” sebagai control dan moderator variable, dan sedang berusaha mengintegrasikan variable tersebut kedalam model ekonomi yang saya (akan) bangun untuk PhD research project saya.

Perdebatan tentang faktor non ekonomi ini sebetulnya bisa dipolarisasikan berdasarkan kutub filosofi ilmu, dimana ilmu ekonomi lebih menggunakan metode perpikir positivism (Friedman, 1966), seperti dipaparkan ARS. Sementara ilmu sosial lain menggunakan metode berpikir realism, dimana ilmu diperoleh berdasarkan pengalaman empiris.

Ilmu ekonomi (terutama Chicago School) sejak era marginalism sepertinya berusaha menjadi “a hard science”, seperti: ilmu fisika, dengan tingkat abstraksi yang tinggi dan berorientasi prediksi. Tingkat abstraksi yang tinggi diperlukan agar semua hal dapat dikuantifisir dan diselesaikan dengan logika matematika. Contoh pengabstraksian ini adalah konsep utility, price equlibrium atau full-employment.

Sementara ilmu sosial lain (sosiologi, psikologi atau antropologi) lebih fokus pada pemahaman (understanding) akan human behaviour. Tak heran kemudian Samuelson (1962, p322-3) berkata: “A theory is vindicable if (some of) its consequences are empirically valid to a useful degree of approximation; the (empirical) unrealism of the theory “itself,” or of its “assumptions,” is quite irrelevant to its validity and worth”. Juga tak heran jika Friedman (1966. p 4) berkata “the more significant theory, the more unrealistic assumption”.

Ilmu ekonomi yang seperti ini memang banyak menuai kritik terutama dari kalangan ilmuwan sosial lainnya karena ilmu ekonomi berangkat dari konsep berpikir yang sangat abstrak dan jauh dari realita bagi para ilmuwan sosial pada umumnya. Banyak variabel-variabel yang jadi perhatian merupakan methaphor (McCloskey 1983, 1995). Tingkat abstraksi yang sangat tinggi sangat beresiko semakin jauhnya variable tersebut dari realita. Thompson (1997) menyebutnya sebagai “Fallacy of Misplaced Concreteness”. Sebagai contoh: dapatkan kita menyebut berapa equilibrium rupiah terhadap US dolar sekarang? Atau, pada saat pertumbuhan ekonomi berapa kondisi full employment tercapai di Indonesia?. Saya jadi teringat ketika Pak Anwar ditanya banyak wartawan tentang equilibrium rupiah/dolar saat awal-awal gejolak kurs. Dia menjawab “Bah…. mana aku tahu…. kalau aku tahu sudah kaya aku”*). Terlepas kata Pak Anwar…, tentu kita bisa memprediksi equilibrium kurs atau full employment. Tapi, dengan kita menyadari tingginya abstraksi konsep-konsep ilmu ekonomi, apakah kita bisa berani mengatakan equilibrium hasil prediksi sebagai suatu equilibrium realita di pasar?

Kritik yang gencar terhadap ilmu ekonomi memang tidak menurunan kredibiltas ilmu ekonomi. Tapi, sedikit-banyak menyadarkan pentingnya pengintegrasian ilmu ekonomi dengan ilmu sosial lainnya. Dan, membuat ilmu ekonomi yang lebih berwarna ilmu sosial daripada terus terobesesi menjadi sebuah hard science.

Pentingnya ilmu ekonomi mengintegrasikan teori-teori ilmu-ilmu sosial lain kedalam ilmu ekonomi bisa dikatakan mendapat pengakuan sejak Kahanemann yang seorang psikolog mendapatkan Nobel Prize tahun 2002. Saya pikir dalam periode kedepan ilmu ekonomi akan lebih bernuansa lebih sebagai ilmu sosial. Dialektika ilmu ekonomi dengan metode berpikir positivism dan ilmu sosial lain dengan metode berpikir realism, akan menghasilkan ilmu ekonomi yang memiliki nilai lebih.

Saya juga jadi teringat anekdot Dani Rodrik**): untuk memprediksi kurs lebih baik meluangkan waktu untuk melakukan tossing a coin daripada ngambil PhD financial economics. Dia, mengutip koleganya, mungkin perlu memasukan hal-hal yang disarankan behavioral economics.

Dalam konteks Indonesia ilmu ekonomi yang lebih berwajah ilmu sosial mungkin akan sangat berguna.

Dendi Ramdani
University of Antwerp, Belgium

*) Diceritakan seorang teman lama Siswa Rizali di saat-saat awal krisis ekonomi.
**) http://rodrik.typepad.com/dani_rodriks_weblog/2007/11/is-a-science-of.html

Friedman, Milton (1966).”The Methodology of Positive Economics” In Essays In Positive Economics. (Chicago: Univ. of Chicago Press, 1966), pp. 3-16, 30-43.

McCloskey, Donald N. (1983) the Rhetoric of Economic. Journal of Economics Literature, Vol 21, p 481-517

McCloskey Donald N. (1995) Modern Epistimology Against Analytic Phylosophy: A Reply to Maki. Journal of Economics Literature, Vol 33, p 1319-1323

Samuelson, Paul A. (1963) “Discussion,” American Economic Review 53(2), 227-236.

Thompson, H Edward (1997) the Fallacy of Misplaced Concreteness: its Importance for Critical and Creative Inquiry. Interchange, Vol 28/2&3, 219-230

Entry Filed under: B. Issues. .

4 Comments Add your own

  • 1. Sonny  |  January 6, 2008 at 7:04 pm

    Soal kebab itu, saya juga punya cerita tentang Bounded Rationality. Dulu saya tidak mau makan kebab, lebih tepat: belum coba makan kebab. Jadi, saat milih makanan saya tidak melakukan optimisasi, tapi mengikuti rule-of-thumb (bahwa makanan yang saya makan, adalah makanan yang sudah saya cicip).

    Minimal ada batasan – misalnya learning process atau kapasitas kognitif yang terbatas – yang bikin saya tidak segera berpindah-pindah makanan, seperti ditaksir menggunakan asumsi neoklasik. Di sini, saya adalah rule-following adaptive agent ..hehehe. Termasuk saat menentukan pilihan yang kompleks soal makan kebab itu.

    Salam,
    Sonny
    nomordelapan.blogspot.com

    Reply
  • 2. dendi  |  January 6, 2008 at 8:26 pm

    Sonny,
    Trimkasih sudah mampir. Betul, ada proses learning dalam menetukan pilihan.

    Tambahan, kalau pun melalui sudah melalui proses learning masalah selanjutnya adalah bagaimana seorang individu bisa membandingkan antar, misalnya, pilihan makanan yang tersedia, menganalisan dan mengambil keputusan. Saya jadi teringat paper Tversky dan Kahanemann tahun 1974 di Science, menyebut ada cognitive biases.

    Ada keterbatasan fungsi cognitive manusia untuk bisa menganalisa dan mengambil keputusan. Saya kalau makan ke restoran agak sulit menentukan makanan apa yang saya makan. Tidak mudah membandingkan macam-macam makanan yang tersedia. Karena ada keterbatasan otak untuk membandingkan, menganalisa dan mengambil keputusan secara”rational”, pada akhirnya orang mengambil keputusan berdasarkan beberapa kriteria penting saja. Bukan berdasarkan total “utility” yang didapat dari mengkonsumsi suatu makanan.

    Contohnya, kalau saya lapar, saya akan makan nasi. Masalah lauknya apa, tidak terlalu penting, apa aja yang ada direstoran itu mungkin saya makan. Kalau saya tidak laper, mungkin saya makan kue-kue saja. Masalah kue apa, adalah hal nomor dua.

    Reply
  • 3. Roby  |  January 8, 2008 at 4:54 am

    saya pikir masalahnya bukan antara positivis dan realis. di amerika sosiologi, ilmu politik dan sebagian antropologi juga bersifat positivis. kritik bersifat positivis pada ekonomi neoklasik bisa tetap dilakukan.

    Reply
  • 4. Dendi Ramdani  |  January 8, 2008 at 10:15 am

    Trimakasih Robby buat komentarnya.

    Robby betul, kecenderungan ilmu sosial saat ini menjadi positivis karena berlomba-lomba untuk bisa memprediksi. Ini tidak dihindari karena ilmu akan terasa bermanfaat jika bisa memprediksi dan mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi. Akan terasa hambar, jika ilmu berhenti sampai understanding saja. Kecenderungan menjadi positivis ini mau tak mau ilmu sosial non ekonomi mengadopsi metodologi ekonomi yang positivis, termasuk juga teknik-teknik estimasi statistik.

    Namun demikian, tetap ada perbedaan kadar positivis ilmu ekonomi dan kadar realism ilmu non ekonomi. Saya melihat dua kutub positivis dan realism berdialektika. Misalkan, ilmu ekonomi ektrim positivism ala Friedman juga mengalami transformasi sedikit-sedikit dengan mengadopsi asumsi-asumsi yang lebih reliastis. Behavioral economics misalnya, Karena, hal ini bermanfaat untuk menambah daya prediksi. Ilmu sosial lain, seperti Robby katakan, juga melakukan transformasi menjadi positivis.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Link

Blog Stats