The Economics of Tacit Collusion

The Economics of Tacit Collusion (Ivaldi, et al, 2003)

“Tacit collusion” need not involve any “collusion” in the legal sense, and in particular need involve no communication between the parties. It is referred to as tacit collusion only because the outcome (in terms of prices set or quantities produced, for example) may well resemble that of explicit collusion or even of an official cartel. A better term from a legal perspective might be “tacit coordination”.

July 13, 2008 at 1:54 pm Leave a comment

Proses Kreatif dalam Penelitian

Penelitian bagi seorang bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan, tapi bisa juga menjadi pekerjaan yang menyiksa. Penelitian menjadi menyenangkan jika kita memiliki rasa ingin tahu yang besar. Proses mencari hal-hal baru dilalui sebagai hari-hari yang menantang. Dilain sisi, penelitian menjadi suatu pekerjaan menyiksa ketika dianggap sebagai kewajiban, untuk bisa menyandang gelar ke-sarjana-an.

Penelitian menjadi pekerjaan menyiksa, bisa jadi karena kurangnya “modal awal” untuk bisa meneliti dengan baik. Buntu pikiran, alias mentok, adalah gejala awalnya. Tidak jarang disaat sudah waktunya menulis skripsi/tesis/disertasi bingung. Tidak tahu harus memulai dari mana. Tidak tahu apa yang harus diteliti.

Lain halnya jika pada tahap awal penelitian sudah tahu apa yang akan diteliti, gambaran arah penelitian sudah terbayang. Pada kasus ini ceritanya mungkin lain. Menyenangkan.

Tahap awal yang paling penting dari proses penelitian adalah menemukan ide penelitian. Ide penelitian harus dicari dan digali melalui berbagai macam cara.

Sebelum kita berbicara apa saja cara menemukan ide penelitian, tip pertama melakukan penelitian adalah kita perlu punya kerangka berpikir dan alat analisis yang cukup. Artinya, pahami dengan baik buku-buku pokok dan artikel-artikel di jurnal dibidang riset yang diminati. Buku acuan utama dibidang riset ini perlu dimengerti dengan struktur pemahaman yang mantap. Misalkan: untuk topik Industrial Organization paling tidak bukunya Tirole (1988.); untuk topik Corporate Finance bukunya Tirole (2005); untuk topik untuk topik Economic Growth bukunya Baro dan Sala-i-Martin (1995), dan lain sebagainya.

Tip kedua. Kita perlu berkonsentrasi pada suatu topik yang spesifik, tentu dengan pemahaman yang lebih dalam. Disini kita perlu membaca artikel-artikel yang menjadi acuan utama ditopik ini. Juga, perkembangan terakhir riset-riset ditopik tersebut. Untuk yang riset paling baru, kita bisa mencari working paper yang masih dalam proses pengerjaan.

Proses kreatif menemukan ide penelitian mungkin banyak cara. Tapi, menemukan ide yang bagus (good ideas) adalah tantangan tersendiri.

Saya pribadi melakukan hal seperti ini. Tip ketiga, mencoba “mengkhayal” hubungan sebab-akibat antar variable of interests dengan bermodalkan pengetahuan yang sudah kita punya. Penguasaan teori dan tools yang baik sangat membantu proses “mengkhayal” ini. Jangan takut untuk berpikiran yang “aneh-aneh”. Justru dari sini mungkin kita menghasilkan sesuatu yang tidak terpikirkan orang lain, sesuatu yang orisinal.

Selanjutnya, kita bisa mencoba merumuskan ide yang telah kita pikirkan itu (tanpa membaca literature terkini dulu). Setelah ide mulai terbentuk, barulah kita mengkonfirmasi ide itu dengan literatute yang relevan dan terkini, untuk kemudian dikombinasikan dan siap dioperasionalisasikan.

Varian (1997) menyarankan ide penelitian tidak dicari di academic journal, tapi di koran, majalah, TV, radio, melalui diskusi dengan orang yang relevan, atau dari pengalaman kehidupan kita sehari-hari. (Silahkan simak kisah Varian tersebut tentang bagaimana proses dia menemukan ide paper klasiknya, A Model of Sales)

Tip keempat, khusus untuk empirical research. Melakukan empirical research tergantung pada data yang kita punya. Jika kita memiliki data yang unik, maka seharusnya kita bisa menurunkan ide riset yang unik pula, vis-à-vis ide bagus. Memang tidak mudah menurunkan ide dari data yang unik. Ini memerlukan waktu berpikir yang cukup lama.

Ada contoh menarik: Fisman (2007). Saya menduga Fisman awalnya memiliki data, baru kemudian menurunkan menjadi ide penelitian. Dia punya data pelanggaran parkir para diplomat UN di New York. Dia membuktikan bahwa prilaku korupsi ditentukan nilai-nilai budaya negara asal para diplomat. Korupsi didefinisikan sebagai “the abuse of entrusted power for private gain”. Korupsi disini di-proxy dengan pelanggaran aturan perparkiran, sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan kekebalan diplomatik (diplomatic immunity). Fisman menemukan diplomat yang berasal dari negara korup melakukan pelanggaran yang tinggi. Contohnya Nigeria. Sejak November 2002 kekebalan diplomatik untuk masalah perparkiran dikecualikan. Dengan kata lain, para diplomat pelanggar perparkiran bisa dihukum. Setelah ada penegakan hukum (legal enforcement), pelanggaran parkir oleh para diplomat ini menurun. Kesimpulan Fisman kedua, penegakan hukum menurunkan korupsi.

July 9, 2008 at 6:43 pm 2 comments

A paper on Indonesian Corporate Governance

This is a paper from Tabalujan (2002). The goal of this paper is to examine Indonesian corporate governance behavior leading up to the crisis during the 1990s and to discuss some lessons to be learned. This is because corporate governance failure has been highlighted as a key contributing factor to explain why Indonesia suffered so badly from the 1997-1999 crisis, compared to other Asian countries. If poor corporate governance is the culprit, then the more that is known about it the more likely a suitable remedy can be applied to solve the problem and to prevent its recurrence. Get the paper here

April 15, 2008 at 5:15 pm Leave a comment

Indonesian Corporate Governance Code

Check it out here!

March 28, 2008 at 6:02 pm Leave a comment

Weekly Cycle of Phd Student Productivity

phd050399s.gifSource: PhDComics

March 18, 2008 at 5:01 pm Leave a comment

Microsoft Guilty in Europe

EU Antitrust Commission has just fined Microsoft 899 million Euro on 27 February 2008.

The commission announced that “Microsoft failed to comply with its obligation under the 2004 Decision for nearly three years after its application for interim measures was rejected by the President of the Court of First Instance on 22 December 2004. During this period Microsoft was able to continue to reap the benefits of its illegal refusal to disclose interoperability information to the detriment of innovation and consumers”.

As a note, this is the first time in 50 years of EU competition policy that the Commission has had to fine for failure to comply with an antitrust decision as Competition Commissioner Neelie Kroes said to BBC.

For further readings:
News from BBC can be read here.
Press release of the decision can be found here.
FAQ for the decision is here.

February 28, 2008 at 1:19 am Leave a comment

Mengapa Meneliti Indonesia?

Indonesia adalah laboratorium ilmu sosial yang kaya dan unik. Kata-kata ini pernah diungkapkan seseorang kepada saya beberapa tahun yang lalu. Kaya dalam arti banyak kemungkinan topik-topik riset yang menarik. Unik dalam arti tidak ada duanya dibandingkan negara lain di dunia ini. Kerumitan masalah dan perubahan sistem ekonomi-politik secara drastis adalah alasannya. Sebut saja beberapa kejadian dramatis dalam sejarah ekonomi-politik Indonesia adalah krisis minyak awal tahun 80-an, kemudian deregulasi besar-besaran untuk mendorong ekspor non-migas tahun 1983-1986, liberalisasi sektor finansial dan perbankan sejak pertengahan 1983 dan tahun 1988 deregulasi perbankan, dan krisis ekonomi tahun 1998 dibarengi pergantian rezim dan program otonomi daerah secara big-bang. Kejadian terakhir tahun 1998 adalah hal yang paling dramatis dalam sejarah ekonomi-politik di Indonesia. Sistem politik Indonesia berubah total dari sistem sentralistis menjadi negara yang sangat demokratis, bahkan melebihi Amerika Serikat sekalipun dimana satu orang bisa memilih presiden secara langsung, ove man one vote, di Amerika tidak.

Indonesia dengan segala keunikannya telah menginspirasi beberapa ekonom dunia dengan ide riset yang brilian. Paling tidak ada tiga artikel tentang Indonesia selama tahun 2000-an ini di jurnal American Economic Review. Satu paper membahas tentang pendidikan di Indonesia (Duflo, 2001). Paper ini membahas pengaruh pengeluaran belanja fisik SD Inpres terhadap produktivias dan upah. Paper kedua (Fisman, 2001) tantang value of political connections. Paper ini mengestimasi nilai relasi politik dilihat kedekatan suatu perusahaan terhadap Soeharto. Nilai ini diestimasi dengan melihat harga saham perusahaan-perusahaan tersebut ketika ada rumor Soeharto sakit selama periode 1995-97. Paper yang lain (Amiti & Konings, 2007) membahas pembuktian teori keunggulan komparatif, dimana penghapusan tarif akan mendorong produktivitas. Paper lain di Journal of Financial Economics yang merupakan terusan paper Fisman membahas bagaimana nilai relasi politik dengan Soeharto berkurang setelah Soeharto jatuh (Leuza and Geeb, 2006). (more…)

February 24, 2008 at 12:49 am 1 comment

Older Posts


Categories

Blog Stats

  • 9,941 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.