Posts filed under ‘A. Short Courses’

Proses Kreatif dalam Penelitian

Penelitian bagi seorang bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan, tapi bisa juga menjadi pekerjaan yang menyiksa. Penelitian menjadi menyenangkan jika kita memiliki rasa ingin tahu yang besar. Proses mencari hal-hal baru dilalui sebagai hari-hari yang menantang. Dilain sisi, penelitian menjadi suatu pekerjaan menyiksa ketika dianggap sebagai kewajiban, untuk bisa menyandang gelar ke-sarjana-an.

Penelitian menjadi pekerjaan menyiksa, bisa jadi karena kurangnya “modal awal” untuk bisa meneliti dengan baik. Buntu pikiran, alias mentok, adalah gejala awalnya. Tidak jarang disaat sudah waktunya menulis skripsi/tesis/disertasi bingung. Tidak tahu harus memulai dari mana. Tidak tahu apa yang harus diteliti.

Lain halnya jika pada tahap awal penelitian sudah tahu apa yang akan diteliti, gambaran arah penelitian sudah terbayang. Pada kasus ini ceritanya mungkin lain. Menyenangkan.

Tahap awal yang paling penting dari proses penelitian adalah menemukan ide penelitian. Ide penelitian harus dicari dan digali melalui berbagai macam cara.

Sebelum kita berbicara apa saja cara menemukan ide penelitian, tip pertama melakukan penelitian adalah kita perlu punya kerangka berpikir dan alat analisis yang cukup. Artinya, pahami dengan baik buku-buku pokok dan artikel-artikel di jurnal dibidang riset yang diminati. Buku acuan utama dibidang riset ini perlu dimengerti dengan struktur pemahaman yang mantap. Misalkan: untuk topik Industrial Organization paling tidak bukunya Tirole (1988.); untuk topik Corporate Finance bukunya Tirole (2005); untuk topik untuk topik Economic Growth bukunya Baro dan Sala-i-Martin (1995), dan lain sebagainya.

Tip kedua. Kita perlu berkonsentrasi pada suatu topik yang spesifik, tentu dengan pemahaman yang lebih dalam. Disini kita perlu membaca artikel-artikel yang menjadi acuan utama ditopik ini. Juga, perkembangan terakhir riset-riset ditopik tersebut. Untuk yang riset paling baru, kita bisa mencari working paper yang masih dalam proses pengerjaan.

Proses kreatif menemukan ide penelitian mungkin banyak cara. Tapi, menemukan ide yang bagus (good ideas) adalah tantangan tersendiri.

Saya pribadi melakukan hal seperti ini. Tip ketiga, mencoba “mengkhayal” hubungan sebab-akibat antar variable of interests dengan bermodalkan pengetahuan yang sudah kita punya. Penguasaan teori dan tools yang baik sangat membantu proses “mengkhayal” ini. Jangan takut untuk berpikiran yang “aneh-aneh”. Justru dari sini mungkin kita menghasilkan sesuatu yang tidak terpikirkan orang lain, sesuatu yang orisinal.

Selanjutnya, kita bisa mencoba merumuskan ide yang telah kita pikirkan itu (tanpa membaca literature terkini dulu). Setelah ide mulai terbentuk, barulah kita mengkonfirmasi ide itu dengan literatute yang relevan dan terkini, untuk kemudian dikombinasikan dan siap dioperasionalisasikan.

Varian (1997) menyarankan ide penelitian tidak dicari di academic journal, tapi di koran, majalah, TV, radio, melalui diskusi dengan orang yang relevan, atau dari pengalaman kehidupan kita sehari-hari. (Silahkan simak kisah Varian tersebut tentang bagaimana proses dia menemukan ide paper klasiknya, A Model of Sales)

Tip keempat, khusus untuk empirical research. Melakukan empirical research tergantung pada data yang kita punya. Jika kita memiliki data yang unik, maka seharusnya kita bisa menurunkan ide riset yang unik pula, vis-à-vis ide bagus. Memang tidak mudah menurunkan ide dari data yang unik. Ini memerlukan waktu berpikir yang cukup lama.

Ada contoh menarik: Fisman (2007). Saya menduga Fisman awalnya memiliki data, baru kemudian menurunkan menjadi ide penelitian. Dia punya data pelanggaran parkir para diplomat UN di New York. Dia membuktikan bahwa prilaku korupsi ditentukan nilai-nilai budaya negara asal para diplomat. Korupsi didefinisikan sebagai “the abuse of entrusted power for private gain”. Korupsi disini di-proxy dengan pelanggaran aturan perparkiran, sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan kekebalan diplomatik (diplomatic immunity). Fisman menemukan diplomat yang berasal dari negara korup melakukan pelanggaran yang tinggi. Contohnya Nigeria. Sejak November 2002 kekebalan diplomatik untuk masalah perparkiran dikecualikan. Dengan kata lain, para diplomat pelanggar perparkiran bisa dihukum. Setelah ada penegakan hukum (legal enforcement), pelanggaran parkir oleh para diplomat ini menurun. Kesimpulan Fisman kedua, penegakan hukum menurunkan korupsi.

Advertisements

July 9, 2008 at 6:43 pm 2 comments

Theory of the Firm

Berle and Means (1932) initially argued that in modern corporations there exists separation between control and ownership. As a result, a manager run the corporation to maximize his/her private benefits which often deviate from interests of owners to maximize value of the firm, or profits. After 44 years Jensen and Meckling (1976) formulated “Theory of the Firm” as a formal model of Berle and Means’s ideas using standard tools of classical economics. The deviation, which is so-called agency problems, can be solved by allowing the manager having share of the firm. The larger manager ownership is the lower the agency costs due to private benefits of the manager are partly derived from profits. Another way to solve agency problems is higher ownership concentration such that the owner has ability to exercise his/her power to monitor or even to fire the managers. Then, Jensen and Meckling predict that relationship between ownership concentration and profit is positive.

As a note, the high concentration ownership produces another agency problem that is conflict of interests between large shareholders and minority shareholders.

The seminal paper of Jensen and Meckling can be downloaded for free here.

January 21, 2008 at 12:04 am Leave a comment

What corporate governance is

Corporate governance is “the way in which suppliers of finance to corporation assure themselves of getting a return on their investment” (Shleifer & Vishny, 1997, page 737). It is always assumed in the standard theory (neoclassical theory) managers have their own interests to maximize their benefits. Very often managers deviate from the interests of shareholders, who wants to maximize return of the invested money. This definition may be the most frequently cited by scholars who have research interests in corporate governance.

A wider definition may be from Tirole (2001). He defines corporate governance as the design of institutions to make managers internalize welfare of stakeholders in the firm. Meanwhile, the OECD defines corporate governance deals as the rights and responsibilities of a company’s management, its board, shareholders and various stakeholders.

May 6, 2007 at 8:39 pm 4 comments


Categories

Blog Stats

  • 10,104 hits